Breaking News
Loading...
Minggu, 16 Januari 2011

Info Post
Benarkah Tuhan itu "ADA"

      Ada sebuah cerita tentang persoalan tersebut. Yaitu terjadinya sebuah diskusi antara seorang tokoh Muslim dengan sekelompok orang-orang kafir yang tidak mempercayai adanya Tuhan (orang-orang atheis).

Begini ceritanya:

Ada sekelompok orang kafir yang tinggal di suatu daerah, mereka semua berpendapat, bahwa alam semesta ini tidak ada penciptanya, alias jadi dengan sendirinya.

Kata mereka: “Orang-orang yang mengatakan bahwa alam semesta ini ada yang mencipta, adalah orang-orang yang bodoh dan tolol, yang tidak mau berfikir secara rasional; sebab, pada kenyataannya, jika anggapan mereka itu benar, lalu kenapa mereka tidak mampu membuktikan secara rasional, dimana dan bagaimana sang pencipta (Tuhan) yang diyakininya itu?. Karena itu, sebenarnya Tuhan yang mereka anggap ada itu adalah hasil dari hayalan atau imajinasi mereka saja.”

Akan tetapi, ketika mereka mendengar adanya seorang tokoh Muslim yang sering mendakwahkan agamanya, dan mengatakan bahwa dunia ini ada yang mencipta, maka mereka sepakat untuk mengundangnya dan mengajaknya berdialog tentang persoalan Tuhan yang diyakini adanya oleh si Muslim tersebut. Mereka telah berencana, bahwa dengan jalan dialog tersebut mereka dapat menjatuhkan pendapat si Muslim di hadapan orang banyak.

Dan akhirnya, keduanya bersepakat untuk menentukan hari dan tempat yang akan digunakan untuk berdialog tersebut, yaitu di sebuah pendopo yang terletak di daerah di mana para orang-orang kafir itu tinggal.

Begitu hari dan waktu yang telah ditentukan tiba, orang-orang kafir tersebut telah siap dan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan itu. Mereka telah berhari-hari menyiapkan diri untuk menghadapi dialog tersebut. Mereka menunggu dengan perasaan yang berdebar-debar dan sedikit tegang. Namun, perasaan itu tak terobati juga, karena orang yang mereka tunggu-tunggu itu sungguh tak kelihatan batang hidungnya.

Sungguh lama sekali mereka menunggu. Saking lamanya, salah satu dari mereka sudah tidak tahan lagi untuk menunggu. Maka ia pun berkata dengan kesalnya: “Apakah ini merupakan kebiasan orang-orang kotor yang tidak berakal itu …!?, yang biasanya hanya membuang-buang waktu dengan sia-sia saja … !?.”

Rupanya, kata-kata orang ini memancing kemarahan orang yang duduk di dekatnya. Dan kontan saja, ia pun lalu menimpali perkataannya dengan lantang: “Sungguh!, ini merupakan tipu daya!. Rupanya si Muslim itu merasa tidak sang -gup untuk mempengaruhi kita, sebab, kita adalah orang-orang yang berakal, tidak seperti orang-orang kotor dan bodoh yang selama ini dapat di pengaruhi olehnya!.”

Akibat dari ucapan dua orang tersebut, maka para hadirin betul-betul terpancing kemarahannya. Mereka sudah kesal dibuatnya. Dan, betul saja, dalam keadaan yang begitu singkat, ruangan dalam pendopo yang mereka tempati itu telah dipenuhi oleh kata-kata umpatan dan ejekan. Bahkan sebagian dari mereka sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tersebut.

Akan tetapi, sekonyong-konyong umpatan dan keributan itu berhenti seketika, karena telah terlihat sesosok tubuh yang mendekati mereka, dan memasuki ruangan tersebut. Yang kemudian, sebentar tampak sunyi.

Dan selanjutnya, dengan tanpa dikomando, secara serempak mereka berkata: “Hai pembohong …!, penipu …!”, dan kata-kata kotor lainnya.

Di antara mereka, ada seorang tua yang sudah hampir putih semua rambutnya. Ia duduk di kursi paling depan. Ia memang nampak lebih sabar dari yang lainnya. Rupanya, dialah pemuka yang dihormati di kalangan orang-orang kafir itu.

Karena khawatir akan terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan, maka dia segera berdiri dan menenangkan para hadirin. Memang, dia nampak berwibawa, sehingga suasana kembali menjadi tenang, dan orang-orang itu pun kembali dan duduk di kursi mereka masing-masing.

    Setelah semuanya tenang, maka sang pemuka itu menoleh kepada orang yang baru datang tadi sambil berkata: ”Hai orang Muslim!, engkau bukan menghadapi orang-orang yang konyol sepertimu, yaitu orang-orang yang tidak beradab dan tidak berakal, serta tidak menghormati waktu. Sungguh, kami sangat sedih dan kesal menunggu kedatanganmu yang ternyata telah membuang-buang waktu saja, yang bagi kami, waktu adalah sangat berharga. Kami berharap, bahwa ajaranmu yang satu ini, yaitu tidak tepat waktu, jangan sekali-kali diterapkan di tengah-tengah kami, karena kami adalah orang-orang yang menghormati waktu dalam hidup ini!.”

Tak lama kemudian, sang tokoh Muslim tersebut menjawab: ”Saudara-saudara sekalian yang kami hormati, kami juga merasa bersedih atas kejadian ini, kenapa kok harus terjadi?. Sebab, keterlambatan dan tidak tepat janji adalah merupakan sesuatu yang amat dicela dalam ajaran agama kami, yaitu Islam.

Hampir serentak dan sambil dibarengi gelak dan tawa, orang-orang kafir itu mencemooh si Muslim tersebut.  Mereka berkata: ”Bohong …!, jangan percaya …!. Dasar penipu ….!.”

Rupanya, Pak tua tadi agak naik pitam. Kemudian dia berkata: ”Bagaimana anda dapat mengatakan hal itu hai orang Muslim…!!!, sedang pada kenyataannya, hal itu banyak dilakukan oleh orang-orang Muslim sendiri…!!!; dan yang sangat mengherankan lagi adalah, bahwa anda sendirilah sebagai pelakunya…!!!.”

Perkataan Pak tua ini disambut dengan gelak dan tawa oleh para hadirin, yang memang mereka merasa berada di atas angin.

Si tokoh Muslim tersebut lalu menjawab: ”Anda sekalian hanya dapat menjumpai kejadian tersebut pada perbuatan-perbuatan sebagian dari kaum Muslimin, tapi bukan pada ajaran Islam. Maka dari itu, siapa pun yang sengaja melakukan yang demikian itu, ia akan mendapat dosa dan celaan. Sungguh, perbuatan mereka itu, di samping merugikan mereka sendiri, juga merugikan agama mereka. Akibatnya, orang-orang yang bukan Muslim, yang pendek penalarannya ter -hadap Islam, akan mengira, bahwa hal itu adalah salah satu dari ajaran Islam. Sehingga dengan jalan itu, mereka mendapat kesempatan untuk menghujat Islam. Tapi sayang, mereka yang menghujat itu kurang jujur, sehingga berusaha memasukkan ke dalam akal mereka apa-apa yang memang tidak masuk akal. Sebab, mana mungkin ajaran agama yang mestinya mengajarkan kebaikan kok mengajarkan kebohongan. Sung -guh, pandangan itu adalah pandangan yang mainmain. Sebab, jika ingin melihat Islam dengan sungguh-sungguh, maka mereka harus menelaah Islam itu sendiri, dan harus dari dalam. Artinya, mereka harus melihat ajarannya, bukan melihat perbuatan sang pemeluknya, khususnya perbuatan-perbuatan yang tidak baik!.”

      Rupanya, secara diam-diam, hati kecil mereka menyadari kebenaran kata-kata si Muslim itu, walaupun hal itu merupakan pukulan balik dari apa-apa yang mereka hujatkan pada si Muslim tersebut.

Seseorang di antara mereka tidak tahan lagi untuk tidak angkat bicara. Maka dari itu, ia pun lalu berdiri dan berkata dengan agak menyindir: “Baiklah, anda telah mengadakan satu pembelaan bagi mereka dengan sesuatu yang nampak masuk akal. Akan tetapi, bagaimana anda dapat membela keterlambatan anda ini …!?.”

Dia berkata demikian sambil wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil menahan tawa. Dan sudah barang tentu, ketika ia selesai mengucapkan kata-katanya tadi, para hadirinpun menyambutnya dengan gelak dan tawa. Sebab, mereka kembali merasa mendapat angin setelah serangan mereka yang pertama terasa tumpul dan membalik.

    Setelah mereka berhenti tertawa, maka kemudian si Muslim itu menjawab: “Saudara-saudara sekalian, adapun sehubungan dengan keterlambatan kami ini, maka kami pun sesungguhnya tidak menghendakinya. Namun, apa boleh buat, kenyataanya memanglah demikian. Kami telah dihadapkan kepada suatu kenyataan yang membuat terpaksa kami terlambat hadir di pendopo ini, yaitu tidak adanya perahu penyeberangan yang dapat menyeberangkan kami dari pinggiran daerah kami ke wilayah ini. Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa daerah kami dan daerah ini, dipisahkan oleh sungai yang cukup besar dan berbahaya. Kami mencari perahu agar dapat mengantarkan kami ke sini; akan tetapi, hingga sekian lama, tidak ada satupun perahu yang melintas di hadapan kami. Namun demikian, kami tetap menunggu dengan sabar di pinggir sungai itu, bahkan hingga lama sekali. Dan tiba-tiba, sebuah pohon besar yang ada di pinggir sungai itu bergoyang dengan kerasnya, dan kamipun lari untuk menjauh darinya. Dari kejauhan kami memandangi pohon tersebut. Kemudian, tiba-tiba pohon tersebut tumbang, lalu terpotong-potong dengan sendirinya, lalu terbelah -belah dengan sangat teraturnya, dan akhirnya menjadi lempengan-lempengan papan. Dan papan -papan tersebut antara satu sama lain saling menempel dengan eratnya, sehingga membentuk lah sebuah perahu kecil. Nah, saat itulah, kami ingat tentang janji kami pada saudara-saudara sekalian untuk bertemu di tempat ini, maka kami gunakanlah perahu kecil tersebut untuk menye -berangi sungai besar itu, hingga sampailah kami di sini.”

      Mendengar alasan si Muslim itu, orang-orang kafir tersebut tertawa terpingkal-pingkal. Mereka merasa, bahwa cerita si Muslim itu adalah ceritanya orang yang tidak waras. Dan pak tua itu pun sangat tersinggung, karena ia merasa diper -mainkan oleh si Muslim tadi. Maka ia pun berdiri lagi dan berkata dengan lantangnya: “Hai orang Musliiiiim…!!!. Apakah kami datang dan menunggumu di sini dengan begitu lama, hanya untuk mendengarkan alasanmu yang gila ini …!!!???.”

Si Muslim balik bertanya: “Apa…!?, giiila …!?.”

Pak tua itu tambah naik pitam, karena si Muslim berlagak pilon. Kemudian ia bertanya: “Apa kamu belum menyadari tentang ceritamu yang gila ini …!!!???.”

Si Muslim itu menjawab: “Aku belum tahu dan belum faham apa yang anda maksudkan dengan cerita gilaku …!?.” Lagi-lagi si Muslim itu bertanya.

Pak tua itu sudah hilang kesabarannya, maka ia berteriak sambil berkata: “Hai orang bodoooh …!!!. Apa ada perahu yang jadi sendiri ...!!!???. Hanya orang gila saja yang percaya pada ceritamu ini ...!!!???. Apa kamu ingin mengajak kami semua gila seperti kamu ...!!!???.”

Si Muslim itu tidak segera menjawab, sebab suasana di pendopo tersebut menjadi gaduh dan kacau, ada yang memaki-maki dan ada pula yang tertawa terpingkal-pingkal. Dan setelah keadaannya agak tenang, maka si Muslim itu mengeluar -kan jurus pamungkasnya, yang telah dipersiapkan olehnya sejak dari awal.

     Ia kemudian berkata: “Saudara-saudara sekalian. Baiklah, anda menertawakan kami, anda memaki-maki kami dan mengatakan bahwa kami sudah gila, hanya karena kami mengatakan bahwa ada sebuah perahu kecil yang jadi dengan sendirinya. Nah, sekarang kami akan bertanya kepada anda sekalian, dan tolong dijawab. Jika mempercayai sebuah perahu kecil yang jadi dengan sendirinya adalah merupakan suatu kegilaan, maka apakah mempercayai alam semesta yang luas, besar dan teratur ini, jadi dengan sendirinya, tanpa ada yang mencipta, sebagaimana yang anda sekalian yakini selama ini, bukankah hal ini malah merupakan sesuatu yang lebih gila …!?. Menurut kami, hal yang demikian ini, adalah lebih gila dan benar-benar perlu ditertawakan!.”

Sejenak suasana menjadi sunyi, sebab mereka sedang berpikir; dan di antara mereka, kelihatan ada yang manggut-manggut. Rupanya, mereka sudah mulai memahami arah pembicaraan si Muslim itu. Dan akhirnya, mereka merasa, bahwa selama ini mereka berada dalam kesalahan, yang sebenarnya mudah untuk dilihat dan dikoreksi. Sebagian besar dari mereka diam. Mereka merasa kagum juga terhadap kecerdikan si Muslim ini. Akhirnya, mereka menanyakan tentang ajaran Islam yang sebenarnya kepada sang tokoh Muslim tersebut.



0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda sangat membantu kami untuk terus berkarya.
Terima kasih telah mengunjungi kami.
sering-sering berkunjung yah. hehehe.........